MUH IRFAN
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Sekertaris jendral DPM UM Mataram
Universitas Muhammadiyah Mataram
087-865-265-729
ac.muhirfan492@yahoo.com
Tema : Mengurangi
Tingkat Apatisme di Kalangan Mahasiswa
“Lembaga Kemahasiswaan : Menjawab Apatisme Mahasiswa”
Apatisme
dan Demokrasi
Apatisme merupakan hal yang sudah tidak asing lagi dalam
kehidupan bernegara. Terlebih lagi dalam negara yang menganut sistem demokrasi.
Apatisme menjadi salah satu indikator kualitas demokrasi itu sendiri. Oleh
karena itu, apatisme menjadi masalah yang serius tidak hanya di Indonesia
tetapi juga di negara kemahasiswaan kita yang notabenenya juga menganut sistem
dmokrasi yang dapat dilihat dari adanya pembagian peran lembaga yang mewujudkan
trias politika dan pemilihan raya.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian
apatis menurut bahasa adalah sikap acuh tidak acuh, tidak pedulu, dan masa
bodoh. Sedangkan menurut istilah apatis merupakan ketidakpedulian terhadap
permasalahan-permasalahan lingkungan (Thomson dan Barton, 1994). Lalu apa
hubungannya dengan Negara Demokrasi? Arti demokrasi diungkapkan oleh beberapa
ahli yaitu:
a.
Joseph A. Schmeter mengungkapkan bahwa demokrasi merupakan suatu
perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik dimana
individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara
perjuangankompetitif atas suara rakyat.
b.
Sidnet Hook berpendapat bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana
keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung
didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat
dewasa.
c.
Philippe C. Schmitter dab Terry Lynn Karl menyatakan bahwa demokrasi adalah
suatu sistem pemerintahan dimana pemerintah dimintai tangggung jawab atas
tindakan-tindakan merek diwilayah publik oleh warga negara yang bertindak
secara tidk langsung elalui kompetisi dan kerjasama dengan para wakil mereka
yang telah terpilih.
d.
Sedangkan Henry B. Mayo menyatakan bahwa demokrasi sebagai sistem politik
merupakan suatu sistem yang menunjukan bahwa kebijakan umum ditentukan atas
dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam
pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan
diselengarakan dalam suasana terjaminya kebebasan politik.
Dengan
demikian makna demokrasi sebagai dasar hidup bermasyarakat dan bernegara
mengandung pengertina bahwa rakyatlah yang memberikan ketentuan dalam
masalah-masalah mengenai kehidupannya, termasuk mengenai kebijkan negara,
karena kebijakan tersebut akan menentukan kehidupan rakyat. Dengan demikian,
negara yang menganut sistem demokrasi adalah negara yang diselengarakan
berdasrkan kehenda dan kemauan rakyat. Dari sudaut oraganisasi, demokrasi
berarti pengorganiassian negara yang dilakukan oleh rakyat sendiri atas
persetujuan rakyat karena kedaulatan beraada ditangan rakyat.
Dari
beberapa pendapat diatas diperoleh kesimpulan bahwa hakikat demokrasi sebagai
suatu sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintah memberika penekanan
pada keberadaan kekuasaan ditangan rakyat, baik dalm penyelengaraan negara maupun
pemerintahan.
Penilaian
tingkat apatisme disebuah negara daat diketahui dengan menilai partisispasi
politik dinegara tersebut. Secara konseptual partisispasi politik adalah
membicarakan kegiatan dan aktifitas individu warga negara dalam proses kehidupan
politik. Warga negara dituntut turut aktif dalam proses pembuatan dan perumusan
kebijakan politik negara.
Dalam
sebuah negara, cara yang paling mudah untuk menilai tingkat apatisme adalah
dengan melihat julah golongan putih ketika pemilihan umum. Mengapa pemilu?
Pemilihan umum (pemilu) merupakan sarana partisipasi warga negara dlaam
berpolitik, dalam arti merupakan awal “transaksi” antara warga neraga pemilih
sebagai konsumen kebijakan-kebijakan sebuah pemerintah atau partai tertentu,
dengan partai yang mungkin menghasilkan kebijakan yang kana dikonsumsi oleh
waega neraga pemilih tersebut. pemilihan umum mempunyai arti penting dalam
kehidupa bernegara karena parisispasi warga neraga pdalam pemilui menujukan
kepedulian dia terhadap keberlangsungan negaranya, artinya menunjukan budaya
politik aktif, tidak aptis, dan menurpan tolak ukur suatu demokrasi (Budiardjo,
1994). Budaya politik apatis adalah budaya politk yang mengakibatkan sebuah
pemerintah tidak didukung oleh warga negaranya. Partisispasi dlam pemilihan
umum adalah sebuah perilaku yang menunjukan keinginan seorang warga negara
mempunya pmerintah yang sah dan terdukung secara demokratis (Budiardjo, 1994).
Sedangkan
dalam kehidupan negara mahasiswa, tingkat apatisme dapat terlihat dengan
tingkat partisispasi dalam pemilihan raya dan keikutsertaan dalam organisasi
kemahasiswaan. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat apatisme maka semakin
rendah kualitas demokrasi negara tersebut, sedangkan semakin rendah tingakat
apatisme maka semakin baik kualitas demokrasi
di negara tersebut.
Mahasiswa dan Apatisme
Berbicara tentang apatisme maka kita sedang berbiacra
tentang partisipasi politik. Berbicara partisipasi maka kita sedang berbicara
tentang objek politik itu sendiri. Maka dalam negara kemahasiswaan objek dari
politik adalah mahasiswa UM Mataram itu sendiri.
Melihat pentingnya partisipasi politik mahasiswa
dinegaranya sendiri maka tingkatapatisme mahasiswa harus dikurangi untuk
meningkatkan kualitas demokrasi di negara kemahasiswaan UM Mataram. Kualitas demokrasi
di negara kemahasiswaan UM Mataram menjadi penting karena akan mempengaruhi
tingkat kebermanfaat organisasi kemahasiwaan se UM Mataram yang menjadi dasar
tujuan dasar dibentuknya tujuan organisasi atau lembaga kemahasiswaan.
Cara yang paling efektif untuk mengurangi tingkat atau
jumlah mahasiswa apatis di Kampus UM Mataram yaitu dengan menginterfensi
lansung penyebab-penyebab dari apatisme mahasiswa itu sendiri. Ada beberapa
penyebab dari apatisme mahasiswa, antara lain:
a.
Faktor ekstenal, seperti kurangnya informasi mengenai kegiatan negara
kemahasiswaan sehingga menyebabkan ketidaktahuan, kurang menariknya organisasi
atau lembaga kemahasiswaan, tidak merasakan kebermanfaat mengikuti acara atau
kegiatan lembaga kemahasiswaan, dan sebagainya
b.
Faktor internal, seperti masalah ekonomi, kemalasan, pilihan ranah
perjuangan yang berbeda
Mengurangi tingkat apatisme mahasiswa
Interfensi lingkungan dapat dilakukan dengan mengubah
konsep lembaga kemahasiwaan serta
kegiatan-kegiatannya. Perubahan-perubahan harus memperhatikan beberapa hal,
antaralain:
a.
Peran dan fungsi ideal lembaga kemahasiswaan tersebut
Kondisi ideal sebuah lembaga kemahsiswaan merupakan
kondisi yang benar-benar prima atau optimal sesuai dengan yang diamanahkan
undang-undang. Undag-undang yang telah dibentuk pastinya telah memperhatikan
pembagian peranatau ranah seperti trias politika sehignga ketika seluruh
lembaga kemahsiswaan di Kampus UM Mataram menjalankan fungsi idealnya maka
kebermanfaat lembaga kemahsasiswaan menjadi maksimal.
b.
Kebutuhan dan keinginan objek politik yaitu mahasiswa
Ketika kondisi atau kegiatan lembaga kemahasiswaan sesuai
dengan kebutuhan dan keinginan mahasiswanya maka perhatian dan keikutsertaan
mahasiswa akan semakin besar. Namun, keingingan objek politik tidak boleh
menyalahi amanah dasar hukum yang ada
c.
Tempat-tempat dan cara-cara strategis menyebarkan informasi lembaga
kemahasiswaan UM Mataram
Pemilihan media komunikasi massa harus menjadi perhatian sebelum
menyebarkan informasi. Karena ketidakstrategisan penyebaran informasi akan
menyebabkan ketidakefektifan penyebaran informasi itu sendiri. Selain itu,
cara-cara yang efektif dan menarik juga harus direncakan dengan matang agara
dapat meningkatkan kepedulian mahasiswa akan kegiatan serta informasi lembaga
kemahasiswaan.
Sedangkan, interfensi personal atau individu harus
dilakukan dengan pendekatan personal dengan cara-cara yang sesuai denga
karakter-karakter personal. Halpertama yang harus dilakukan adalah dengan
melakukan segmentasi atau analisis terhadap kelompok yang homogen agar
penyelesaian masalah individu dapat diefektifkan dan tidak menyerap banyak
perhatian lembaga kehamsiswaan. Setelah itu, analisis selanjutnya yaitu
melakukan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan cara mehasiswa tersebut.
Tentang pemilihan ranah perjuangan yang berbeda
sebenarnya hanya butuh fasilitasi yang serius dari lembaga-lembaga kemahsiswaan
UM Mataram dan mengoptimalkan kebermanfaatannya. Karena dengan memfasilitasi
minat dalam berjuang oleh lembaga kemahasiswaan akan menignkatkan partisipasi
mahasiswa UI terhadap kegiatan lembaga kemahsiswaan. Sedangkan dengna
optimalisasi kebermanfaatan yang searah denga minat atau pilihan ranah berjuang
akan menarik perhatian dan simpati mahasiswa UI terhadap lembaga kemahasiwaan.
Sumber:
Darmayadi, Andrias. PERGERAKAN
MAHSISWA DALAM PERSPEKTIF POLITIK: PARTISIPASI OTONOM ATAU MOBILISASI dalam
majalah ilmiah UNIKOM vol.9, No.1.
Zulganef, dkk. 2009. HUBUNGAN
KEPUASAAN, KEPERCAYAAN, DAN KOMITMEN DENGAN KEGIATAN OPINIAON LEADERSHIP PRODUK
POLITIK PADA MAHASISWA JAWA BARAT. FAKULTAS BISNIS DAN MANJEMEN UNIVERSITAS
WIDYATAMA BANDUNG
Farid Wadjdi &
Shiddiq Al- Jawawi et. A (2009)l ----Ilusi Negara Demokrasi Al-Azhar Perss.
Demokrasi Indonesia.
Pendidikan Kewarganegaraan Politeknik Telkom.
www.anakUI.com. Mahasiswa Apatis Tidak Semuanya Apatis.
2010
SEGA GENESIS - GAN-GAMING
BalasHapusSEGA GENESIS. GENESIS-HANDS. goyangfc Genesis (JP-EU). NA. NA. https://jancasino.com/review/merit-casino/ NA. SEGA 바카라 GENESIS-HANDS. NA. sol.edu.kg SEGA GENESIS. NA. https://septcasino.com/review/merit-casino/ GENESIS-HANDS. NA.